Belum
lama ini sedang ramai diberitakan di berbagai media, terkait meninggalnya
seorang bintang k-pop yakni Sulli ex-member
dari girl group
FX yang merupakan grup yang bernaung di salah satu agensi hiburan
terbesar di Korea Selatan SM Entertainment. Sebelumnya salah satu penyanyi dari
SM Entertainment Jonghyun Shinee juga dinyatakan meninggal bunuh diri karena
depresi, dan hal tersebut terjadi lagi pada Sulli yang dikabarkan juga
mengakhiri hidupnya diduga karena depresi dan cyber bullying yang
didapatkannya di media sosial.
Kabar meninggalnya Sulli sendiri
cukup membuat terkejut sekaligus merasa sesak, apalagi hingga saat ini dugaan
bahwa Sulli meninggal bunuh diri karena depresi yang disebabkan oleh banyaknya
komentar jahat yang ia dapatkan, membuatku berkali-kali menghela napas panjang. Betapa
kata-kata bahkan mempunyai kekuatan yang begitu besar untuk melukai bahkan
menghancurkan seseorang. Hal ini mengingatkanku pada pengalaman buruk tentang bullying
yang pernah aku alami dulu.
Awal tahun lalu aku sempat
membagikan pengalaman pribadiku di salah satu media sosial tentang
“perundungan”, atau yang saat ini lebih kita kenal dengan bullying yang pernah kualami saat duduk di bangku sekolah dasar.
Setelah menceritakan pengalaman tersebut banyak tanggapan beragam yang aku dapat.
Ada yang menyampaikan rasa salutnya karena aku tetap bertahan dan menjadi
pribadi yang kuat sampai saat ini, ada beberapa yang memberikan kata-kata
semangat. Hal sederhana yang bermakna untukku, tentu aku sangat bersyukur dan
berterimakasih. Tapi jangan salah, tak sedikit juga yang “meremehkan” perihal
apa yang pernah aku alami. Komentar-komentar seperti, “halah kayak gitu doang
itu hal yang wajar kali zaman sekolah dulu, harusnya ga usa diambil hati”, ada pula
yang berkelakar “dibully kaya apa sih? Verbal? Dikata-katain doang? Ya ga usa
dipikirin. Lebay amat”, atau bahkan aku disebut “cari perhatian banget sih
cerita-cerita kayak gini”. Sesak memenuhi dada seketika saat membaca
komentar-komentar sinis seperti itu. Tapi yaaa,,, akan selalu ada
manusia-manusia seperti itu bukan?.
Aku mengalami perundungan di bangku sekolah dasar baik secara
verbal maupun fisik, dua-duanya tidak bisa kuterima cukup dengan kalimat
“nggak usa dipikirin”. Di saat anak-anak lain begitu bersemangat untuk pergi ke
sekolah dan bertemu dengan banyak teman. Aku justru sempat berada di masa,
sekolah adalah tempat menyedihkan sekaligus menyeramkan. Untuk bertatap muka
dengan anak-anak yang saat itu menyakitiku, nyaliku ciut seketika. Ada saat di
mana aku bahkan begitu ketakutan untuk masuk kelas hanya karena takut bertemu
dengan anak-anak tersebut.
Menceritakan pengalaman mengerikan
seperti ini, bukan hal yang menyenangkan untukku. Sesak, mata berkaca-kaca
masih sering aku alami hingga detik ini setiap kembali mengingatnya.
Pikiran-pikiran seperti, “kenapa aku dulu diperlakukan seperti itu?, apa aku memang
layak mendapatkannya?” seringkali masih menggema di kepala. Aku tetap memilih
membagikan cerita ini bukan untuk semata-mata mencari perhatian, aku hanya
berharap agar kamu, kalian, setidaknya tidak lagi melakukan hal-hal menyakitkan
seperti itu. Karena untuk menyembuhkan dan bangkit dari keterpurukan karena bullying
bukan sesuatu yang mudah. Tidak semua mau peduli. Tidak semua mau
memahami.
Verbal ataupun fisik, bahkan tulisan
berupa komentar jahat di media sosial, atau apapun bentuk bullying lainnya, bukan lagi sesuatu yang saat ini bisa kita anggap
sepele. Sampai akhirnya korban depresi dan bahkan bunuh diri, mereka tetap dihakimi dengan banyak asumsi. Dari mulai “nggak kuat iman”, “nggak ngerti agama”, “dasar mentalnya aja yang lemah”. Korban
tetap disalahkan. Sampai kapan?
Menjadi baik itu wajib, peduli itu
pilihan. Apa kita perlu mengalami hal yang sama menyakitkannya dulu untuk bisa
bersimpati? Atau jika tidak ingin bersimpati, setidaknya jangan mencaci atau
menghakimi. Berusaha menjadi lebih peka pada orang-orang di sekitar kita, tanpa
harus menunggu mereka berteriak minta tolong. Selagi masih ada, dengarkan dan
rangkul mereka.