mp3

Thursday, October 17, 2019

Be Helpful Not Hurtful


           Belum lama ini sedang ramai diberitakan di berbagai media, terkait meninggalnya seorang bintang k-pop yakni Sulli ex-member dari  girl group  FX yang merupakan grup yang bernaung di salah satu agensi hiburan terbesar di Korea Selatan SM Entertainment. Sebelumnya salah satu penyanyi dari SM Entertainment Jonghyun Shinee juga dinyatakan meninggal bunuh diri karena depresi, dan hal tersebut terjadi lagi pada Sulli yang dikabarkan juga mengakhiri hidupnya diduga karena depresi dan cyber bullying  yang didapatkannya di media sosial.
            Kabar meninggalnya Sulli sendiri cukup membuat terkejut sekaligus merasa sesak, apalagi hingga saat ini dugaan bahwa Sulli meninggal bunuh diri karena depresi yang disebabkan oleh banyaknya komentar jahat yang ia dapatkan, membuatku  berkali-kali menghela napas panjang. Betapa kata-kata bahkan mempunyai kekuatan yang begitu besar untuk melukai bahkan menghancurkan seseorang. Hal ini mengingatkanku  pada  pengalaman buruk tentang  bullying yang pernah aku alami dulu.
            Awal tahun lalu aku sempat membagikan pengalaman pribadiku di salah satu media sosial tentang “perundungan”, atau yang saat ini lebih kita kenal dengan bullying yang pernah kualami saat duduk di bangku sekolah dasar. Setelah menceritakan pengalaman tersebut banyak tanggapan beragam yang aku dapat. Ada yang menyampaikan rasa salutnya karena aku tetap bertahan dan menjadi pribadi yang kuat sampai saat ini, ada beberapa yang memberikan kata-kata semangat. Hal sederhana yang bermakna untukku, tentu aku sangat bersyukur dan berterimakasih. Tapi jangan salah, tak sedikit juga yang “meremehkan” perihal apa yang pernah aku alami. Komentar-komentar seperti, “halah kayak gitu doang itu hal yang wajar kali zaman sekolah dulu, harusnya ga usa diambil hati”, ada pula yang berkelakar “dibully kaya apa sih? Verbal? Dikata-katain doang? Ya ga usa dipikirin. Lebay amat”, atau bahkan aku disebut “cari perhatian banget sih cerita-cerita kayak gini”. Sesak memenuhi dada seketika saat membaca komentar-komentar sinis seperti itu. Tapi yaaa,,, akan selalu ada manusia-manusia seperti itu bukan?.
            Aku mengalami perundungan di bangku sekolah dasar baik secara verbal maupun fisik, dua-duanya tidak bisa kuterima cukup dengan kalimat “nggak usa dipikirin”. Di saat anak-anak lain begitu bersemangat untuk pergi ke sekolah dan bertemu dengan banyak teman. Aku justru sempat berada di masa, sekolah adalah tempat menyedihkan sekaligus menyeramkan. Untuk bertatap muka dengan anak-anak yang saat itu menyakitiku, nyaliku ciut seketika. Ada saat di mana aku bahkan begitu ketakutan untuk masuk kelas hanya karena takut bertemu dengan anak-anak  tersebut.
            Menceritakan pengalaman mengerikan seperti ini, bukan hal yang menyenangkan untukku. Sesak, mata berkaca-kaca masih sering aku alami hingga detik ini setiap kembali mengingatnya. Pikiran-pikiran seperti, “kenapa aku dulu diperlakukan seperti itu?, apa aku memang layak mendapatkannya?” seringkali masih menggema di kepala. Aku tetap memilih membagikan cerita ini bukan untuk semata-mata mencari perhatian, aku hanya berharap agar kamu, kalian, setidaknya tidak lagi melakukan hal-hal menyakitkan seperti itu. Karena untuk menyembuhkan dan bangkit dari keterpurukan karena  bullying  bukan sesuatu yang mudah. Tidak semua mau peduli. Tidak semua mau memahami.
            Verbal ataupun fisik, bahkan tulisan berupa komentar jahat di media sosial, atau apapun bentuk bullying lainnya, bukan lagi sesuatu yang saat ini bisa kita anggap sepele. Sampai akhirnya korban depresi dan bahkan bunuh diri, mereka tetap dihakimi dengan banyak asumsi. Dari mulai “nggak kuat iman”, “nggak ngerti agama”,  “dasar mentalnya aja yang lemah”. Korban tetap disalahkan. Sampai kapan?
            Menjadi baik itu wajib, peduli itu pilihan. Apa kita perlu mengalami hal yang sama menyakitkannya dulu untuk bisa bersimpati? Atau jika tidak ingin bersimpati, setidaknya jangan mencaci atau menghakimi. Berusaha menjadi lebih peka pada orang-orang di sekitar kita, tanpa harus menunggu mereka berteriak minta tolong. Selagi masih ada, dengarkan dan rangkul mereka.



No comments:

Post a Comment